Judul diatas tidak berarti saya telah berubah menjadi seseorang yang narcistic, no…no. Sebenarnya saya hanya ingin introspeksi, melihat lagi ke dalam diri sendiri sambil memberikan penilaian apakah saya (selama 27 tahun terakhir) telah memelihara serta menyayangi diri saya dengan baik sebagai salah satu makhluk Tuhan. Saya tumbuh dengan kepercayaan bahwa fisik kita adalah kepunyaan Tuhan YME yang dititipkan, oleh karena itu kita tidak boleh melakukan apapun yang bisa merusaknya. That’s why kita tidak diperbolehkan bunuh diri, karena itu sama saja dengan menyakiti kepunyaan Tuhan. Kembali ke term “memelihara”, nampaknya banyak sekali yang harus dijadikan bahan introspeksi, hehehe.
1. Fisik
Diawali dengan awareness terhadap apa saja yang masuk ke dalam pencernaan saya selama ini. Okay, saya akui saya memiliki pola makan yang (menurut saya) kacau di masa lalu, dan ini membawa akibat di usia saat ini. Tak ada kata terlambat untuk berubah, saat ini saya sedang merubah pola pikir saya terhadap makanan, jika dulu saya “Hidup untuk Makan”, saat ini prinsip saya adalah “Makan untuk Bertahan Hidup”. Mohon maaf buat teman-teman yang mungkin terganggu, tapi saya sedang berusaha untuk mebuat diri saya semakin sehat demi kelangsungan hidup saya di masa yang akan datang.
Jika apa yang saya makan menjadi hal pertama yang harus diperhatikan, maka hal lain yang berkaitan dengan fisik adalah lingkungan dimana kita hidup dan beraktifitas. Tidak bisa diingkari bahwa lingkungan dimana kita menghabiskan banyak waktu sehari-hari nya memberikan efek yang besar terhadap kesehatan fisik kita. Beberapa hari yang lalu, saya diberitahu oleh seorang teman bahwa ada teman nya yang meninggal dunia dengan diagnosa penyakit infeksi paru, yang (menurut teman saya itu) diakibatkan karena yang bersangkutan adalah perokok pasif (bukan perokok namun senantiasa dikelilingi dan menghirup asap rokok). Wow, betapa mengerikannya. Secara pribadi saya adalah seseorang yang alergi terhadap segala jenis debu rumah, asap rokok, dan seafood. Okay, mungkin tidak serta merta menjadi penyebab kematian, namun menjadi warning buat agar agak menjauhkan diri dari hal-hal tersebut. Sebagai perantau yang tinggal sendirian di kota nan gemerlap ini, hanya saya yang bisa mengawasi diri saya sendiri. Sebisa mungkin saya akan selalu menjaga kamar kost saya selalu bersih, tubuh juga selalu bersih, serta beraktifitas di lingkungan dan kondisi yang saya yakin atas “keamanan” nya.
2. Mental
Bagaimana membuat sanity kita tetap berada di tempat yang tepat? Saya tidak akan membicarakan soal spiritualitas, namun lebih kepada beberapa aktifitas yang membuat pikiran kita tetap jernih. So far, buku, music, dan film masih menjadi sahabat-sahabat terbaik dalam menjaga keseimbangan mental saya. Oh iya, belanja juga bisa masuk ke dalam salahsatu kategori penjaga keseimbangan (walaupun hanya bisa dilakukan di saat-saat tertentu, hehehe ). Terkait dengan memelihara mental, ada peribahasa Mensana in Corpore Sano yaitu di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Setuju!!! Oleh karena itu saya sangat berharap, poin 1 yang saya jabarkan sebelumnya bisa terus saya laksanakan.
Memelihara diri sendiri, kembali lagi bukan mengajarkan pada kita untuk meningkatkan ego serta bersikap narsistic, tapi lebih kepada bagaimana kita memelihara dan menyayangi sebuah ciptaan Tuhan yang maha sempurna.
Cheers!
No comments:
Post a Comment